Alamat :

بسم الله الرحمن الرحيم

Majelis Ta’lim

AL-KAAFUUR

الكافور

ان الابراريشربون من كاس كان مزاجها كا فورا    الانسان : ه

DESA PAMULIHAN KECAMATAN PAMULIHAN – SUMEDANG TELP : (022)7911943

Minggu, 24 April 2011

solat sunat istigosah

Akhir-akhir ini digalakkan sholat isthighosah. Sholat ini seringkali dilaksanakan dengan berjamaah di tempat terbuka. Tidak jarang sholat ini diikuti dengan upacara-upacara lainnya seperti zikir bersama, lalu dilantunkan pula puji-pujian dan kalimat lailaaha illallah tiga ribu kali, allahu akbar tiga ribu kali, dan bacaan-bacaan lainnya yang pada umumnya dengan bilangan-bilangan tertentu.
Kata istighosah berasal dari غَاثَ- يَغُوْثُ غَوْثًا, artinya menolong, membantu
Kemudian kata tersebut berubah menjadi masdar ghoiru mim untuk bina ajwaf dengan mengikuti wazan إِسْتَفَالَ يَسْتَفِيْلُ - إِسْتِفَالَةً   sehingga menjadi
إِسْتَغَاسَ يَسْتَغِيْثُ إِسْتِغَاثَةً  artinya minta ditolong atau minta dibantu.

9. (ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".
Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa perang Badar, yaitu ketika Rasulullah saw merasa sangat was-was dan khawatir akan pasukan beliau. Saat itu, kaum muslimin jumlahnya sangat sedikit dengan perbekalan dan kendaraan perang, serta persenjataan yang sangat minim. Mereka harus berhadapan dengan musuh, kaum musyirikin Quraisy, dengan jumlah yang jauh lebih banyak, dengan perbekalan, kendaraan, serta persenjataan yang sangat memadai. Ketidakseimbangan yang menakutkan ini mendorang beliau untuk secara khusus memohon kepada Allah. Adapun perbandingan antara jumlah pasukan muslimin dan pasukan kafirin dapat dilihat dalam tabel berikut.

Muslimin
Kafirin
Pasukan
319
1000
Pasukan berkuda
2
300
Pasukan pakai unta
70
700

Perlu diketahui, misi utama Rasulullah saw dalam perang Badar adalah mengepung dan memotong perekonomian Quraisy. Rasulullah saw telah berusaha secara terus-menerus untuk menghambat semua jalur perdagangan Quraisy, karena jika secara ekonomi Quraisy dapat dilemahkan maka secara militer pun akan dapat dilemahkan.
Pada hari kedua belas bulan Ramadhan tahun kedua Hijiriyah, Rasulullah saw mengetahui bahwa kafilah dagang Quraisy  datang dari Syam, lalu Nabi saw bersabda pada kaum muslimin yang ada di sisinya:
وقال: " هَذِهِ عِيْرُ قُرَيْشِ فِيْهَا أَمْوَالُهُمْ، فَاخَرِّجُوا إِلَيْهَا لَعَلَّ اللهَ يَنْفَلِكُمُوْهَا ".
Ini adalah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta kekayaan mereka, keluarlah kepadanya, mudah-mudahan Allah menjadikannya sebagai rampasan bagi kalian.                       السيرة النبوية لابن كثير - ج 2 / ص 381
Saat itu kafilah di bawah pimpinan Abu Sufyan, membawa barang perdagangan dan membawa harta kekayaan yang sangat banyak, 1000 ekor unta dan 50.000 dinar emas. Tetapi dengan kepintaran Abu Sufyan, mereka bisa lolos dari kepungan kaum muslimin. Bahkan mereka dapat membawa bantuan pasukan dari Makkah. Selanjutnya Abu Sufyan memerintahkan pasukan untuk kembali karena kafilah sudah lolos dari kepungan Muhammad dan kawan-kawan.
Tetapi Abu Jahal dengan kesombongannya berkata:
فَقَالَ أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ وَاَللّهِ لَا نَرْجِعُ حَتّى نَرِدَ بَدْرًا - وَكَانَ بَدْرٌ مَوْسِمًا مِنْ مَوَاسِمِ الْعَرَبِ ، يَجْتَمِعُ لَهُمْ بِهِ سُوقٌ كُلَّ عَامٍ - فَنُقِيمُ عَلَيْهِ ثَلَاثًا ، فَنَنْحَرُ الْجُزُرَ  الْعَرَبُ وَبِمَسِيرِنَا وَجَمْعِنَا ، فَلَا يَزَالُونَ يَهَابُونَنَا أَبَدًا بَعْدَهَا ، فَامْضُوا .
Demi Allah kita tidak akan kembali sebelum kita sampai di Badar. Dahulu Badar merupakan pasar tahunan orang-orang Arab, kemudian kita tinggal di sana selama tiga hari, lalu kita menyembelih binatang sembelihan, pesta makanan, minum khomar, para biduaniata menyanyikan lagu untuk kita, dan orang-orang Arab akan mendengar kita, mendengar perjalanan dan himpunan kita, sehingga mereka akan senantiasa takut kepada kita sesudah peristiwa ini, karena itu majulah terus. سيرة ابن هشام - (ج 1 / ص 618)
صحيح مسلم - (ج 5 / ص 156)
4687 - حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِىِّ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ حَدَّثَنِى سِمَاكٌ الْحَنَفِىُّ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ حَدَّثَنِى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ ح وَحَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ الْحَنَفِىُّ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنِى أَبُو زُمَيْلٍ - هُوَ سِمَاكٌ الْحَنَفِىُّ - حَدَّثَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ قَالَ حَدَّثَنِى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُمِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلاً
Dari Umar bin Khotob ia berkata, ketika perang Badar, Rasulullah saw melihat jumlah  kaum musyrikin berjumlah  seribu orang, sedang sahabatnya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang,
فَاسْتَقْبَلَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ « اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ ». فَمَازَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ
Maka Nabiullah menghadap ke kiblat dan mengangkat tangannya, serta mulailah ia berdoa kepada Rabbnya. Ya Allah penuhilah janjimu kepadaku, ya Allah berikanlah apa yang telah engkau janjikan itu, ya Allah jika kelompok ahli Islam ini musnah, engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini, maka terus menerus beliau berdoa kepada rabb-Nya seraya mengangkat kedua tangannya dan menghadap ke kiblat sampai bajunya melorot jatuh dari kedua pundaknya.
فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ. وَقَالَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ كَذَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِينَ) فَأَمَدَّهُ اللَّهُ بِالْمَلاَئِكَةِ
Abu Bakar mendatanginya dan mengambil bajunya dan mengenakannya kembali kepada kedua pundak beliau dan menguatkan baju itu dari belakang, sambil berkata, Wahai Nabi Allah telah sedemikian rupa permohonanmu, kepada Rabbmu, niscaya ia akan memenuhi janjinya kepadamu, maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas.
Perlu ditegaskan di sini bahwa yang berdoa istighosah itu hanya Rasululah saw sendiri. Padahal pada waktu itu, Abu Bakar berada pada kemah yang sama dan Abu Bakar tidak turut beristighosah. Oleh karena itu, sungguh telah menyalahi sunnah Rasul apabila seseorang mengajak orang banyak untuk berdoa istigosah. Dalam hal ini dapat dikatakana bahwa berdoa istighosah adalah hak pemimpin yang merasa tidak berdaya dan tidak akan mengahadapi bahaya dengan tangannya sendiri.
Cara berdoa istighosah sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas adalah, pemimpin itu menghadap kiblat,  mengangkat tangannya, dan memohon diselamatkan dari bahaya besar yang dihadapi umat dan agamanya.
سنن سعيد بن منصور - (ج 2 / ص 312)
 2872 - حدثنا سعيد قال : حدثنا يعقوب بن عبد الرحمن عن أبيه عن عبيد الله بن عبد الله قال : لَمَّا كَانَ يَوْمَ بَدْرٍ فَنَظَرَ رسول الله صلى الله عليه و سلم إِلَى الْمُشْرِكِيْنَ وتَكَاثُرِهِمْ وَنَظَرَ إِلَى الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَقَلَّهُمْ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ وَقَامَ أَبُوْ بَكْرٍ عَنْ يَمِيْنِهِ
Dari Ubaidillah bin Abdullah ia mengatakan, ketika hari perang badar, Rasulullah saw melihat musyrikin dan banyaknya jumlah mereka dan melihat kaum muslimin dan menganggap mereka terlalu sedikit, lalu beliau sholat dua rakaat dan berdirilah Abu bakar di sebelah kanannya.
فَقَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم فِي صَلاتِهِ : اللهم لا تَوَدَّعْ مِنِّي اللهم لا تَخْذُلْنِي اللهم لا تَتِرَّنِي اللهم أَنْشُدُكَ مَا وَعَدْتَنِي اللهم إِنْ يَهْزَمُ هَذَا الْجَمْعُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ هَذَا الْجَمْعُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ لاَ تُعْبَدُ أَبَدًا
Rasulullah saw berdoa di dalam sholatnya, Ya Allah janganlah engkau meninggalkan aku, ya Allah janganlah engkau hinakan aku, ya Allah janganlah engkau aniaya aku, ya allah aku memohon janjimu padaku jika kelompok musyrikin menghancurkan kelompok muslimin engkau tidak akan disembah di muka bumi ini selamanya.
فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ : أَلْحَفْتَ والله بأبي أَنْتَ وَأُمِّي واللهِ لاَ يَتَوَدَّعُ مِنْكَ وَلاَ يَخْذُلُكَ وَلاَ يَتْرُككَ وَليَنْصُرَنَّكَ عَلىَ عَدُوِّكَ كَمَا وَعَدَكَ فَانْصَرَفَ رسول الله صلى الله عليه و سلم مَسْرُوْرًا وَقَالَ : رَأَيْتُ جِبْرِيْلَ مُعْتَجِرًا مُتَدَلِّيَا مِنَ السَّمَاءِ مُعْتَجِرًا بِعِجْزَةِ القتال على أسنانه قترة الغبار فعرفت أنه النصر
Aku Bakar berkata, aku bersumpah demi Allah, Allah tidak akan meninggalkanmu, tidak akan mencelakakanmu tidak akan menghinakanmu dan pasti ia akan menolongmu atau musuhmu. Sebagaimana telah ia janjikan kepadamu, maka Rasululah saw beranjak dengan gembira dan bersabda, Aku melihat Jibril sangat gagah  turun dari langit dengan gagahnya.
            Hadits ini dhoif karena Ubaidillah bin Abdullah bin Abdullah bin Abdullah dilahirkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khothab atau sedikit sesudahnya (Siyaru A'lam an Nubala juz 4 hal 475). Sedangkan perang badar telah terjadi pada waktu yang cukup jauh waktu darinya. Jadi, jelas sekali hadits ini mursal.
سنن النسائي الكبرى - (ج 5 / ص 187)
 8628 - أنبأ محمد بن يحيى بن محمد قال حدثنا عمر بن حفص قال حدثنا أبي قال حدثنا الأعمش عن أبي إسحاق عن أبي عبيدة عن عبد الله قال : لما التَّقَيْنَا يَوْمَ بَدْرٍ قَامَ رسول الله صلى الله عليه و سلم فَصَلَّى فَمَا رَأَيْتُ نَاشِدًا يَنْشُدُ حَقًا لَهُ أَشَدَّ مِنْ مُنَاشَدَةِ مُحَمَّدٍ رسول الله صلى الله عليه و سلم رَبَّهُ عز و جل وَهُوَ يَقُوْلُ
Dari Abdullah dia berkata, ketika kami bertempur di perang Badar, Rasululah saw berdiri sholat, maka saya tidak pernah melihat seorang pemohon yang teramat sangat memohon haqnya melebihi permohonan Muhammad kepada Rabbnya. Beliau berucap:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ وَعْدَكَ وَِعَهْدَكَ اللهم إني أَسْأَلُكَ مَا وَعَدْتَنِي اللهم إِنْ تَهْلِكُ هَذِهِ العِصَابَةُ لا تُعْبَدُ فِي الأَرْضِ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيْنَا وَكَأَنَّ شِقَّةَ وَجْهِهِ القَمَرُ فَقَالَ هَذِهِ مَصَارِعُ الْقَوْمِ العَشِيَّةَ
 Ya Allah aku teramat memohon kepadamu akan janjimu, dan kesanggupanmu, ya Allah aku memohon kepadamu apa yang telah engkau janjikan kepaku, ya Allah jika celaka kelompok muslim ini maka engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini, kemudian beliau berpaling menoleh kepada kami, maka raut wajahnya laksana bulan purnama (berseri-seri) ia bersabda, ini pertempuran sengit kaum sore hari ini.
Abu Ubaidah yang bernama Amir bin Abdullah bin Mas'ud, ia rawi yang tsiqoh, tetapi tidak mendengar hadits dari ayahnya Abdullah bin Mas'ud ibnu Main berkata, ia tsiqoh tetapi tidak mendengar hadits dari bapaknya dan ketika ayahnya wafat ia masih berumur tujuh tahun. Dengan demikian hadits ini munqothi.
Melalui keterangan-keterangan tersebut, jelaslah bahwa berdoa istighosah itu disyariatkan bagi pemimpin dalam keadaan tertentu, tetapi sholat istighosah merupakan idraj (tambahan) yang dhoif. Terbukti pada hadits yang shohih riwayat Muslim, sebagai pokok atau asal hadits yang menjadi sumber berkembangnya hadits itu dengan tambahan-tambahan, sama sekali tidak diceritakan tentang adanya sholat istighosah yang dilakukan Nabi saw.
Adapun zikir-zikir dan bacaan-bacaan tertentu atau lantunan-lantunan lainnya yang diatasnamakan istighosah, jelas ini hanya merupakan rekayasa dan hal yang diada-adakan alias bid'ah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar